TASAWUF IRFANI & ROBI’ATUL ADAWIYAH

Posted: Mei 24, 2011 in Uncategorized

             TASAWUF IRFANI & ROBI’ATUL ADAWIYAH

  1. Tasawuf Irfani
    1. Hakikat Irfani

Secara etimologis, kata Irfan merupakan kata jadian (mashdar) dari kata ‘arafa’ (mengenal/pengenalan). Adapun secara terminologis, ‘irfan diindentikkan dengan ma’rifat sufistik. Ahli irfan adalah orang yang berma’rifat kepada Allah.Irfan diperoleh seseorang melalui jalan al-idrak al- mubasyir al wujudani (penagkapan langsung secara emosional), bukan penangkapan secara rasional.[1]

 Sebagai sebuah ilmu, irfan memiliki dua aspek, yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek praktisnya adalah bagian yang menjelaskan hubungan dan pertanggung jawaban manusia terhadap dirinya, dunia, dan Tuhan. Sebagai ilmu praktis, bagian ini menyerupai etika. Bagian praktis ini disebut sayr wa suluk (perjalanan rohani). Bagian ini menjelaskan bagaimana seseorang penempuh rohani (salik) yang ingin mencapai tujan puncak kemanusiaan, yakni tauhid, harus mengawali perjalanan, menempuh tahapan-tahapan (maqam) perjalanannya secara berurutan, dankeadaan jiwa (hal) yang bakal dialaminya sepanjang perjalanannya tersebut.

Sementara itu, ‘irfan teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi), mendiskusikan manusia, Tuhan serta alam semesta. Dengan sendirinya, bagian ini menyerupai teosofi (falsafah ilahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud. Seperti halnya filsafat, bagian ini mendefinisikan berbagai prinsip dan problemanya. Namun,  jika filsafat hanya mendasarkan argumennya pada prinsip-prinsip rasional, ‘irfan mendasarkan diri pada ketersibukan mistik yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.[2]

  1. Tokoh-tokoh Tasawuf Irfani
    1. Rabi’atul Adawiyah (95-185 H)
      1. Biografi Singkat

                       Nama lengkap Rabi’ah adalah Rabi’ah binti Ismail Al Adawiyah AL Bashriyah Al Qaisiyah. Ia diperkirakan lahir pada tahun 95 H/ 713 M atau 99 H/ 717 M di suatu perkampungan dekat kota Bashrah (Irak) dan wafat di kota itu pada tahun 185 H/ 805 M. Ia dilahirkan sebagai putri keempat, orang tuanya menamakan Rabi’ah. Kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih kecil. Konon, pada saat terjadinya bencana perang di Bashrah, ia dilarikan penjahat dan dijual kepada keluarga Atik dari suku Qais Banu Adwah. Dari sini, ia dikenal dengan Al-Qaisyah atau Al-Adawiyah. Pada keluarga ini pulalah, ia bekerja keras tetapi akhirnya dibebaskan lantaran tuannya melihat cahaya yang memancar di atas kepala Rabi’ah dan menerangi seluruh ruangan rumah pada saat ia sedang beribadah.

                       Setelah dimerdekakan tuannya, Rabi’ah hidup menyendiri menjalani kehidupan sebagai seorang Zahidah dan Sufiah. Ia jalani sisa hidupnya hanya dengan beribadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah sebagai kekasihnya. Ia memperbanyak taubat dan menjauhi hidup duniawi. Ia hidup dalam kemiskinan dan menolak segala bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam doanya, ia tidak meminta hal-hal yang bersifat materi dari Tuhannya.[3]

  1. Ajaran Tasawuf : Mahabbah (Cinta)

                Dalam perkembangan mistisme Islam, Rabi’ah Al Adawiyah tercatat sebagai peletak dasar tasawuf berdasarkan cinta kepada Allah. Sementara generasi sebelumnya merintis aliran astisketisme Islam berdasarkan rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Rabi’ah pula yang pertama-tama mengajukan pengertian rasa tulus ikhlas dengan cinta yang berdasarkan permintaan ganti dari Allah.

                Untuk memperjelas pengertian al-hubb yang diajukan Rabi’ah , yaitu hub al hawa dan hub anta al lahu, perlu dikutip tafsiran beberapa tokoh berikut. Abu Thalib Al Makiy dalam Qut Al Qulub, sebagai mana dijelaskan Badawi, memberikan penafsiran bahwa makna hubb al-hawa adalah rasa cinta yang timbul dari nikmat-nikmat adalah nimat material, tidak spriritual, karena hubb di sini bersifat indrawi. Walaupun demikian hubb al-hawa yang diajukan Rabi’ah ini tidak berubah-ubah, tidak bertambah dan berkurang karena bertambah dan berkurangnya nikmat. Sebab, Rabi’ah tidak memandang nikmat itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada di balik nikmat. Adapun al-hubb anta ahl lahu adalah cinta yang tidak didorong kesenangan indrawi, tetapi didorong Dzat yang dicintai. Cinta yang kedua ini tidak mengharapkan balasan apa-apa. Kewajiban yang dijalankan Rabi’ah timbul karena perasaan cinta kepada dzat yang dicintai.

                Dikatakan bahwa waktu Robi’ah menghadapi maut ,ia meminta teman-temannya meninggalkannya dan ia mempersilahkan pada para utusan Tuhan lewat. Waktu teman-temannya berjalan keluar, mereka mendengar robi’ah mengucapkan Syahadat, dan ada suara yang menjawab,

“sukma, tenanglah kembalilah kepada Tuhanmu legakan hatimu kepadaNya, ini akan memberi kepuasan kepadaNya” [4]

                Cinta Rabi’ah kepada Allah begitu mendalam dan memenuhi seluruh relung hatinya, sehingga membuatnya hadir bersama Tuhan. Hal ini terungkap dalam Syairnya:

“ku jadikan Kau teman berbincang dalam kalbu

Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku.

Dengan temanku tubuhku bercengkrama selalu.

Dalam kalbu terpancang selalu kekasih cintaku.”

                Bagi manusia yang mempunyai cinta kepada Allah yang tidak tulus ikhlas, Rabi’ahselalu mengatakan:

“Dalam batin, kepada-Nya engkau durhaka

Tetapi dalam lahir kau nyatakan cinta

Sungguh aneh gejala ini

Andaikan cinta-Mumemang tulus dan sejati tentu yang

Ia perintahkan kau taati

Sebab pecinta selalu patuh dan bakti kepada yang dicintai.”

                Dalam kesempatan bermunajat. Robi’ah kerap menyampaikan:

“Wahai Tuhanku, tenggelamkan aku dalam mencintaiMu,

sehingga tidak ada yang menyibukkan aku selain dariMu,

ya Tuhan, bintang dilangit telah germelapan, mata telah bertiduran,

pintu-pintu istana telah dikunci

dan tiap pecinta telah menyendiri dengan yang dicintai,

dan inilah aku berada di kehadiratMu”[5]

 


[1] Rosihan Anwar dan M. Sholihin, 2008, IlmuTasawuf,Bandung :pustaka setia ; hal-145

[2] Murtadha Muthahari, Mengenal ‘Irfan, terj. C. Ramli Bihar Anwar, Jakarta;: hikmah, 2002, hlm-3

[3] Ibid, hlm.-146-147

[4] A. musthofa, 2008, akhlaq tasawuf,, Bandung : pustaka setia hlm. 250

[5] Ibid, hlm 150

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s