Alih Kode dan Campur Kode

Posted: Mei 12, 2011 in Uncategorized

ALIH KODE DAN CAMPUR KODE

A. Kode Istilah kode dipakai untuk menyebut salah satu varian di dalam hierarki kebahasaan, sehingga selain kode yang mengacu kepada bahasa (seperti bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Indonesia), juga mengacu kepada variasi bahasa, seperti varian regional (bahasa Jawa dialek Banyuwas, Jogja-Solo, Surabaya), juga varian kelas sosial disebut dialek sosial atau sosiolek (bahasa Jawa halus dan kasar), varian ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa (gaya sopan, gaya hormat, atau gaya santai), dan varian kegunaan atau register (bahasa pidato, bahasa doa, dan bahasa lawak) Kenyataan seperti di atas menunjukkan bahwa hierarki kebahasaan dimulai dari bahasa/language pada level paling atas disusul dengan kode yang terdiri atas varian, ragam, gaya, dan register.

B. Alih Kode Appel (1976:79) mendefinisikan Alih Kode itu sebagai, “gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi”. Contohnya yaitu si A sedang bebincang-bincang dengan si B dengan bahasa sunda, kemudian datang si C yang yang berasal dari jawa dan tidak mengerti bahasa sunda sama sekali, akhirnya si A dan B berbicara dengan si C dengan bahasa Indonesia yang akhirnya bahasa perbincangan mereka bertiga berubah menjadi bahasa Indonesia. Dari contoh di atas terlihat tentang adanya peralihan bahasa sunda ke bahasa indonesia, dari peralihan itulah terjadi yang namanya Alih kode. Berbeda dengan Appel, hymes (1875:103) menyatakan Alih Kode itu bukan hanya terjadi antar bahasa saja, tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa. Suwito (1985), dia membagi alih kode menjadi dua, yaitu : 1. alih kode ekstern bila alih bahasa, seperti dari bahasa Indonesia beralih ke bahasa Inggris atau sebaliknya. 2. alih kode intern bila alih kode berupa alih varian, seperti dari bahasa Jawa ngoko merubah ke krama. Menurut Fishman Alih Kode terjadi karena beberapa faktor: 1) Pembicara atau penutur, yang mana seringkali melakukan Alih Kode untuk mendapatkan “keuntungan” atau “manfaat” dari tindakannya itu. Contohnya, bapak A setelah beberapa saat berbicara dengan bapak B mengenai usul kenaikan pangkatnya dan dia baru tau bahwa bapak B itu berasal dari daerah yang sama dengan dia dan juga mempunyai bahasa ibu yang sama. Maka, dengan maksud agar urusannya cepat beres dia melakukan alih kode dari bahasa Indonesia ke bahasa daerahnya. Andaikata Bapak B ikut terpancing untuk menggunakan bahasa daerah, maka bisa diharapkan urusan menjadi lancar. Tetapi jika bapak B tidak terpancing dan tetap menggunakan bahasa Indonesia, bahasa resmi untuk urusan kantor, maka urusan mungkin saja menjadi tidak lancar, karena rasa kesamaan satu masyarakat tutur yang ingin dikondisikannya tidak berhasil, yang menyebabkan tiadanya rasa keakraban. Alih kode untuk memperoleh “keuntungan” ini biasanya dilakukan oleh penutur yang dalam peristiwa tutur itu mengharapkan bantuan lawan tuturnya. 2) Lawan bicara atau lawan tutur, misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur itu. Dalam hal ini biasanya kemampuan bahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bukan bahasa pertamanya. Kalau si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur, maka alih kode yang terjadi hanya berupa peralihan varian(baik regionsl maupun sosial), ragam, gaya, atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan si penutur, maka yang terjadi adalah alih bahasa. Umpamanya, Ani, pramuniaga sebuah toko cindramata, kedatangan tamu seorang turis asing, yang mengajak bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Ketika kemudia si turis tampaknya kehabisan kata-kata untuk terus barbicara bahasa Indonesia.maka Ani cepat-cepat beralih kode untuk bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, sehingga kemudian percakapan menjadi lancar kembali. 3) Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang menyebabkan berubahnya situasi yang mana orang ketiga itu tidak berlatar belakang bahasa yang sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh si penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Pada contoh sebelumnya sewaktu si A dan si B bercakap-cakap dalam bahasa sunda, datanglah si C yang tidak menguasai bahasa sunda. Maka, si A dan si B segera beralih kode dari bahasa sunda ke bahasa Indonesia. Andaikata si C mengerti bahasa sunda mungkin alih kode tidak dilakukan oleh si A dan si B. Status orang ketiga dalamalih kodejuga menentukan bahasa atau varian yang harus digunakan. Contohnya, kita misalkan beberapa mahasiswa sedang duduk-duduk di muka ruang kuliah sambil bercakap-cakap dalam bahasa santai. Tiba-tiba datang seorang ibu dosen dan turut berbicara, maka kini para mahasiswa beralih kode dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam formal. Mengapa mereka tidak terus saja dengan ragam santai ? sebab kehadiran orang ketiga yang berstatus ibu dosen ini, mengharuskan mereka utuk menggunakan ragan formal itu. Kecuali, kalau ibu dosen ini memulai dengan ragam santai juga. 4) Perubahan situasi bicara(dari formal ke informal atau sebaliknya) pada contoh sebelumnya dappat kita lihat, sebelum perkuliahan dimulai situasinya adalah tidak formal, tetapi begitu perkuliahan di mulai yang berarti situasi menjadi formal, maka terjadilah peralihan kode dari bahasa Indonesia ragam santai lalu berubah menjadi bahasa Indonesia ragam formal. Kemudian jika perkuliahan telah berakhir maka berakhirlah pula situasi formalnya, dan kembali ke situasi tidak formal. Dari situlah terjadi lagi yang namanya peralihan kode. 5) Berubahnya topik pembicaraan,

C. Campur Kode Pembicaraan mengenai alih kode biasanya diikuti dengan pembicaraan campur kode. Kedua peristiwa yang lazim terjadi dalam masyarakat yang bilinggual ini mempunyai kesamaan yang besar, sehingga sering kali sukar dibedakan. Malah Hill dan Hill (1980:122) dalam penelitian mereka mengenai masyarakat bilingual bahasa Spanyol dan Nahuali di kelompok Indian Meksiko, mengatakan bahwa tidak ada harapan untuk dapat membedakan antara alih kode dan campur kode. Campur kode (code-mixing) terjadi apabila seorang penutur menggunakan suatu bahasa secara dominan mendukung suatu tuturan disisipi dengan unsur bahasa lainnya. Hal ini biasanya berhubungan dengan karakteristk penutur, seperti latar belakang sosil, tingkat pendidikan, rasa keagamaan. Biasanya ciri menonjolnya berupa kesantaian atau situasi informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa lain, walaupun hanya mendukung satu fungsi. Campur kode termasuk juga konvergense kebahasaan (linguistic convergence). Ciri-ciri yang menonjol dalam campur kode ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang tedapaat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sering dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing; dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau menggaris bawai kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan. Kadana-kadang terdapat juga campur kode ini bila pembicara ingin memamerkan “keterpelajarannya” atau “kedudukannya”. Campur kode terbagi menjadi dua, yaitu: 1.Campur kode ke dalam (innercode-mixing): Campur kode yang bersumber dari bahasa asli dengan segala variasinya 2. Campur kode ke luar (outer code-mixing): campur kode yang berasal dari bahasa asing.

D. Latar belakang terjadinya campur kode dapat digolongkan menjadi dua, yaitu 1. sikap (attitudinal type) latar belakang sikap penutur 2. kebahasaan(linguistik type) latar belakang keterbatasan bahasa, sehingga ada alasan identifikasi peranan, identifikasi ragam, dan keinginan untuk menjelaskan atau menafsirkan. Dengan demikian campur kode terjadi karena adanya hubungan timbal balik antaraperanan penutur, bentuk bahasa, dan fungsi bahasa. Beberapa wujud campur kode, 1. penyisipan kata, 2. menyisipan frasa, 3. penyisipan klausa, 4. penyisipan ungkapan atau idiom, dan 5. penyisipan bentuk baster (gabungan pembentukan asli dan asing).

E. Persamaan dan Perbedaan Alih Kode dan Campur Kode. Persamaan alih kode dan campur kode adalah kedua peristiwa ini lazin terjadi dalam masyarakat multilingual dalam menggunakan dua bahasa atau lebih. Namun terdapat perbedaan yang cukup nyata, yaitu alih kode terjadi dengan masing-masing bahasa yang digunakan masih memiliki otonomi masing-masing, dilakukan dengan sadar, dan disengaja, karena sebab-sebab tertentu sedangkan campur kode adalah sebuah kode utama atau kode dasar yang digunakan memiliki fungsi dan otonomi, sedangkan kode yang lain yang terlibat dalam penggunaan bahasa tersebut hanyalah berupa serpihan (pieces) saja, tanpa fungsi dan otonomi sebagai sebuah kode. Unsur bahasa lain hanya disisipkan pada kode utama atau kode dasar. Sebagai contoh penutur menggunakan bahasa dalam peristiwa tutur menyisipkan unsur bahasa Jawa, sehingga tercipta bahasa Indonesia kejawa-jawaan. Thelander mebedakan alih kode dan campur kode dengan apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain disebut sebagai alih kode. Tetapi apabila dalam suatu periswa tutur klausa atau frasa yang digunakan terdiri atas kalusa atau frasa campuran (hybrid cluases/hybrid phrases) dan masing-masing klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsinya sendiri disebut sebagai campur kode.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s