MUHAMMAD SEBAGAI SUAMI DAN SEBAGAI NABI

Posted: Mei 24, 2011 in Uncategorized

MUHAMMAD SEBAGAI SUAMI DAN  SEBAGAI NABI

Sangat sulit sekali untuk memisahkan sisi pribadi Muhammad saw  sebagai seorang laki-laki dan seorang suami dengan sisi Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul. Hal itu berbeda sekali dengan kehidupan para nabi lain yang juga memikul amanat kerasulan walaupun mereka adalah juga manusia biasa. Perbedaan tersebut timbul karena risalah suci yang dibawa Nabi Muhammad saw menekankan suatu kepastian bahwa Muhammad adalah seorang manusia biasa. Penekanan ini tidak kita temukan dalam agama-agama lain  yang acap kali mengemukakan sifat-sifat tak manusiawi dari para Rasulnya, seperti Nabi Isa a.s. yang dilahirkan oleh ibunya Maryam tanpa keberadaan seorang ayah.

Kerasulan Muhammad saw juga tidak menghapuskan dari hati beliau sifat kasih Sayang sebagai manusia biasa atau menghilangkan perasaan batinnya. Muhammad juga tidak Ma’sum kecuali dengan sifat-sifat yang berhubungan dengan kenabian seperti beliau bersifat Shiddiq(Benar), Amanah (Jujur), Dan sebagainya. Dalam hal ini Muhammad adalah sebagaimana diterangkan oleh Allah swt dalam firmanNya:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian.”

(QS 18:110;41:6).

Nabi Muhammad saw senantiasa merasa tenang hidup berdampingan dengan istri-istrinya dan beliau juga selalu berhubungan dengan anak-anaknya. Muhammad saw mengalami hal-hal biasa yang juga dirasakan oleh manusia lain, seperti cinta dan benci, simpati dan antipasti, takut dan harap, juga rasa rindu dan kangen. Beliau juga sebagaimana manusia lain sering mengalami rasa letih, juga mengalami kesedihan. Beliau menjadi anak yatim, mengalami rasa sakit, dan akhirnya wafat. Tentang hal ini Allah swt berfirman:

Muhammad tidak lain adalah hanyalah seorang rasul, telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Lalu apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berpaling ke belakang (Murtad) (QS 3:144)

Kesulitan dan kesukaran dalam pembahasan ini semakin bertambah karena sesungguhnya kita melihat dua kepribadian tersebut berada pada diri Nabi Muhammad saw., tidak terpisah satu sama lain. Apalagi Allah Yang Maha suci dan Maha Luhur tidak membiarkan Rasul-Nya untuk bertindak bebas dalam kehidupannya sendiri, sebagaimana yang biasa diilakukan oleh laki-laki biasa. Selain itu, Nabi menerima wahyu secara insidentil, berupa perintah-perintah “khusus” yang berhubungan dengan kehidupan suami-istri; hubungan Nabi dengan istrinya harus tunduk pada petunjuk yang jelas dari Allah SWT.

Ada sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan hal diatas, di antaranya adalah munculnya tuduhan dari sebagian orang bahwa Siti ‘Aisyah r.a. berselingkuh. Persoalan tersebut hanya dapat diselesaikan dengan turunnya wahyu yang menjelaskan bahwa ‘Aisyah terbebas dan bersih dari tuduhan yang keji itu.

Juga pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Zaynab binti Jahsy. Pernikahan tersebut baru dapat terlaksana setelah turunnya wahyu berupa teguran yang jelas, karena Nabi menyembunyika dalam hatinya sesuatu yang akan ditampakkan oleh Allah, dan karena sikap Nabi yang merasa takut akan celaan masyarakat. Nabi Muhammad seharusnya lebih takut kepada Allah SWT.

Demikian pula ketika Muhammad saw. Menceraikan Siti Hafshah binti ‘Umar r.a., Allah kemudian mengasihi ‘Umar, ayah Hafshah, sehingga turunlah Malaikat Jibril a.s. menyampaikan perintah supaya Nabi rujuk dengan Hafshah r.a.

Peristiwa lain adalah munculnya kegelisahan istri-istri Nabi Muhammad saw. karena kehidupan yang mereka rasakan terlalu sederhana. Kegelisahan mereka tidak berakhir kecuali setelah turunnya firman Allah yang terdapat dalam surat Al-Ahzab (QS 33:28-29).

Perilaku istri-istri Nabi Muhammad pun selalu tunduk pada pengawasan Ilahi dengan cara berbeda, yang tidak biasa terjadi pada wanita-wanita lainnya. Allah berfirman (QS 33:32-34)

Sungguh, sebagian dari keterangan-keterangan ini telah cukup menjelaskan, bagaimana sukarnya memisahkan du kepribadian Muhammad saw. Kepribadian Muhammad sebagai seorang suami dan sebagai seorang Nabi. Lalu, laki-laki seperti apakah Nabi ummat islam itu Suami seperti apa pula yang sanggup mengumpulkan sekian banyak wanita mulia didalam rumahnya: Wanita-wanita dari bermacam suku dan warna kulit, wanita-wanita yang berjauhan asal-usul dan tempat bertumbuhnya, serta wanita-wanita yang berbeda usia dan bentuk badannya

Rasulullah adalah panutan sempurna dan teladan yang baik bagi laki-laki dalam berinteraksi dengan istri-istrinya, pembagian jadwal bermalam secara adil, pemberian nafkah, kelembutan dan kemuliaan terhadap keluarga  maupun menghadapi kemarahan mereka, kecemburuan, dan perselisihan dengan kemurahan hati, kelembutan, dan nasihat yang baik.

Nabi Muhammad saw. Biasa mengunjungi mereka semua dalam dua waktu. Pertama, pada waktu pagi untuk menasihati mereka. Kedua, pada waktu sore untuk menampakkan keramahan dan kelembutan. Mereka juga biasa berkumpul dengan Nabi di semua rumah mereka bahkan Rasulullah saw. Biasa membantu pekerjaan rumah dan memenuhi keperluan-keperluannya dengan tangannya sendiri.

Aisyah berkata: “Tangan Rasulullah tidak pernah sama sekali memukul istri dan pembantunya.”[1] Ketika ditanya apa yang biasa diperbuat Nabi di keluarganya ‘A’isyah menjawab “Beliau selalu melayani keluarganya. Jika waktu shalat tiba, beliaupun segera melaksanakan shalat”[2] dan diantara penuturan ‘A’isyah yang lain “Rasulullah adalah orang yang paling lembut dan paling mulia. Beliau adalah manusia seperti kalian, tetapi beliau murah senyum.”[3]

Adapun kebiasaan Nabi apabila hendak bepergian, beliau mengundi istri-istrinya. Pengundian dilakukan jika tidak memungkinkan bepergian dengan mereka semuanya. Jika salah satu dari mereka ditentukan langsung, tentu akan menyebabkan kemarahan semua istrinya.walaupun dintara mereka ada yang berpeluang menang, tetapi tidak memungkinkan bepergian bersama Nabi, karena kesepian para istri untuk bepergian tidaklah sama. Juga kesiapan mereka dalam menghadapi berbagai kesulitannya. Meski demikian, ketika Nabi melaksanakan haji, beliau membawa semua istrinya.

Pada saat Nabi sakit terakhir kalinya, beliau merasa kesulitan jika berpindah-pindah ke rumah setiap istrinya setiap hari, seperti yang biasa beliau lakukan pada masa sehatnya. Beliau sempat bertanya “Besok aku (giliran bermalam) di mana? Besok aku (giliran bermalam) di mana?” Namun saat itu, beliau menginginkan hari itu tinggal di rumah ‘Aisyah. Semua istrinya mengizinkan Nabi menunaikan kehendaknya. Lalu, beliau pun tinggal dirumah ‘Aisyah, hingga wafat.[4]

Diriwayatkan dari ‘A’isyah bahwa ketika nabi saw. sedang sakit, beliau memangil semua istrinya. Setelah istrinya berkumpul, Rasulullah saw. bersabda, “sesungguhnya aku tidak mampu lagi untuk berkeliling kerumah kalian. Jika kalian mengizinkan, aku ingin tingal dirumah ‘A’isyah.” Maka merkapun mengizinkannya.[5] adapun hikmahnya, Rasulallah saw. Dimakamkan dirumah ‘A’isyah, karena beliau sempat berpesan agar dimakamkan ditempat beliau wafat.[6]

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Lihat dalam Mu’jam Al buldan (5:137-143) dengan sedikit perubahan

[2] Imam al-syuyuti menyebutkan hadits ini di dalam Al-Durur Al-Muntastsirah

[3] Al-‘Ajluni menuturkannya dalam Kasyf Al-khafa’ no. 2309, Al-Muttaqi Al-Hindi dalam Kanz Al-‘ummal no. 38262. Dia menyandarkannya kepada Abd Al-Hakam dalam Futuh Mishr, dan Ibn ‘Asakir dalam kitab Tarikhnya.

[4] HR Muslim no. 2543

[5] Disebutkan oleh Al-‘Ajluni dalam Kasyf Al-Khafa’ dalam hadits no.2309, dengan tema, “ Mishr kinanat Allah fi Ardhihi”.

[6] Mu’jam Al-Buddan (1:249). Lihat juga dalam Shirah Al- nabawiyyah karya Ibn Hisyam, hadits tentang Al-Wushat (orang-orang yang berwasiat)(1:112-113)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s