Sejarah Ibadah haji

Posted: Juni 3, 2011 in Uncategorized

Ibadah haji adalah upacara keagamaan masa lalu, yang dilaksanakan di Arabiyah jauh sebelum Islam. Namun, pada masa jahiliyah, haji adalah ritual ekonomi dan bisnis dengan menghapus symbol-simbol agama tertentu yang penting. Pelemparan batu atau jumrah, lari-lari kecil mengelilingi Ka’bah, lari-lari kecil diantara bukit shofa dan marwah, dan bahkan pengorbanan binatang, semuanya adalah tradisi sebelum Islam. Tetapi semua hal ini telah menjadi tradisi, bukan ibadah. Kesemuaannya hanya secara suram mengenang arti penting Islam yang sesungguhnya. Hanya ketika nabi Muhammad SAW menegakkan kembali hubungan ibadah haji dengan Islam, maka ibadah haji tersebut mendapatkan arti penting religiusnya.

Sebelum tampilnya Muhammad dan selama kegiatan-kegiatannya sampai ia menaklukkan kota kelahirannya, haji menduduki tempat penting dalam kehidupan orang-orang Makkah dan semua suku Arab yang mempunyai suatu hubungan dengan mereka. Dalam hal itu perdagangan lebih menonjol dari pada kebutuhan akan keagamaan. Suku-suku Badui tidak melakukan perjalanan berhari-hari untuk menyelenggarakan pertemuan keagamaan atau mencongklang mengelilingi Ka’bah. Kebutuhan keagamaan mereka cepat terpenuhi dan upacara-upacara. Makkah itu tidak mempunyai sesuatu yang dapat membangkitkan gerak hati itu kecuali, batu sesajen, makanan cuma-cuma dari daging unta dan daging sapi. Perjanjian-perjanjian dibuat, pesta-pesta dirayakan, mungkin juga banyak dosa telah ditebus dengan korban yang dimakan oleh tamu-tamu yang diundang atau oleh orang-orang Makkah yang miskin dan peziarah-peziarah.[1]

Melalui haji dan semua ritualnya, jama’ah haji menegaskan dua hal yang sangat penting. Pertama, mereka memperbaharui perjanjian mereka dengan Allah melalui talbiyah, jawaban atas panggilan Allah sebagai mana mereka semua menangis dalam satu suara, “labbayka Allahumma labbayk, labbayka la syarika laka labbayk.” Mereka juga menghubungkan peristiwa sejarah saat ini dengan sejarah masa nabi, karena melalui haji kita menapaki pengalaman bapak kita, Ibrahim a.s. Setiap aktivitas haji melambangkan aktivitas Nabi Ibrahim. Pengorbanan putranya dilambangkan dengan pengorbanan hewan pada akhir rangkaian haji. Keraguan dan ketidakpastiannya dilambangkan dengan melempar kerikil, sebagai mana ia mengusir setan dan bisikan keraguannya atas ketaatan kepada perintah Allah untuk mengorbankan putranya.

Penderitaan yang ditemui Nabi Ismail dan ibunya Hajar, dilambangkan dengan berlari-lari diantara dua bukit Shafa dan Marwah. Menurut  Al-Qur’an, ketika Ibrahim a.s meninggalkan keluarganya di keheningan ka’bah ia berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di satu lembah yang gersang di sisi rumah-Mu yang suci. Tuhan kami, agar mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur” (14:37). Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa Hajar kemudian berlari mencari air. Dengan panik ia berlari di antara dua bukit untuk mencari air, sementara putranya lemas kehausan. Kemudian Allah memunculkan sumur zam-zam yang memancar, dan keduanya, sang ibu dan anaknya itu selamat.[2]

Ø  Sejarah Thowaf

Nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang lebih tua telah melakukan perbuatan bereliling Ka’bah. Bahkan nabi Adam pun sudah melakukan upacara itu.Sedangkan alasan-alasan yang menyebabkan dibangunnya Ka’bah oleh Adam menurut kisah-kisah Ibn Abbas dan Wahb Munabbih isi pokokoknya ialah, bahwa Tuhan merasa kasihan terhadap dia karena kesepiannya dan untuk menghiburnya maka Allah memerintahkan membuat rumah (Ka’bah). Kalau kita lebih lanjut bertanya tentang alaan Adam mengelilingi rumah (Ka’bah) itu, maka para pembuat kisah menunujuk pada para Malaikat yang mengelilingi tahta Tuhan dengan cara yang sama. Adapun pra Malaikat tidak perlu memberi  penjelasan kepada kita tentang arti upacara-upacara mereka.[3]

  • Sejarah Melempar Jumrah

Sadarilah bahwa tujuan melempar jumrah semata-mata karena taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya serta hendaknya kita merasionalisasikannya. Kemudian, sadari pula bahwa tujuan dari pelemparan jumrah semata-mata karena meniru apa yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s. saat itu iblis menghadangnya di tempat-tempat yang sekarang dijadikan tempat melempar jumrah. Sehingga dengan melempar jumrah ini pelaksanaan  haji kita menyerupai dengan pelaksanaan haji Nabi Ibrahim a.s. Atau menyerupai sikapnya yang selalu patuh menjalankan perintah Allah dimana beliau ketika dihadang oleh iblis disuruhnya agar iblis dilempar dengan batu agar dia menjauh dan agar ambisinya dapat dienyahkan. Oleh karena itu lakukanlah melempar jumrah seolah-olah syetan telah melakukan indakan yang sama kepada kita seperti yang dilakukan iblis kepada Nabi Ibrahim.[4]

Ø Sejarah Sa’i

 

Nabi Ibrahim a.s. meninggalkan Hajar dan Ismail di tempat yang baru, yaitu Makkah. Hajar menyerahkan nasibnya kepada Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hajar dan Ismail hanya memiliki perbekalan sedikit untuk menyambung hidupnya di Makkah. Dalam waktu beberapa hari perbekalan yang dimiliki mulai menyusut. Akhirya makanan habis. Hajar dan Ismail mulai mengalami kekurangan makan dan minum. Mereka berdua kelaparan dan kehausan.

Pada waktu itu Ismail masih menyusui kepada Hajar (ibunya). Oleh karena Hajar menderita lapar dan haus maka lama kelamaan air susunya mongering. Ismail bertambah menderita. Air susu ibunya (Hajar) sebagai pengganti makan dan minum akhirnya habis pula. Terik matahari di padang pasir panas bukan kepalang. Hajar yang semula nampak segar bugar, sekarang nampak kurus dan lemah. Demikian pula Ismail yang ditimpa bahaya kelaparan dan kehausan pernah menangis sekuat tenaga, kemudian tangisnya hilang karena sudah tidak ada lagi tenaga untuk menangis. Matanya mulai cekung dan kurus. Sulit menceritakan keadaannya. Ismail nampak tidak bernafas lagi karena sangat lapar dan dahaga.

Hajar berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwa Ismail. Akan tetapi ismail bertambah lemah. Akhirnya anak tersebut diletakkan diatas pasir dibawah terik matahari yang sangat panas. Sedangkan Hajar berusaha mencari air untuk dapat menolong dirinya dan ismail.

Hajar pergi menuruni suatu tempat yang sekarang disebut Shofa, kemudian kembali lagi ke tempat Ismail diletakkan yang sekarang disebut Marwa. Apabila Hajar kembali menengok Ismail di Marwa seoalah-olah terdengar suara air di Shafa. Akan tetapi setelah didatangi ternyata tanda-tanda adnya air di Shafa tidak ada. Sebaliknya apabila Hajar pergi ke Shafa terdengar tanda-tanda adanya air di Marwa. Akan tetapi setelah didatangi ternyata tidak ada air di Marwa.

Hajar mencari air antar Shafa dan Marwa tersebut dilakukan sebanyak tujuh kali. Dari usaha Hajr mencari air dari Shafa ke Marwa dan dari Marwa ke Shafa inilah asal mula ibadah sa’i.

Ibadah Sa’i sudah dilakukan sejak zaman dulu kala. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 158 yaitu :

sesungguhnya Shafa dan Marwa itu adalah Syi’ar, tanda-tanda kebesaran Allah. Maka barang siapa yang dating atau menuju ke Baitullah (Ka’bah) untuk mengerjakan rukun Haji atau Umrah, tidaklah mengapa bagi mereka, apabila mereka berlari-lari antara keduany. Mereka mengerjakan sunnat. Berbuat kebaikan, sesungguhnya Allah akan membalasnya karena Allah Maha Mengetahui (Q:S Al Baqarah:158).

      Bukit Shafa letaknya tidak jauh dari Masjidil Haram. Jarak tersebut kurang lebih 50 meter. Sedangkan jarak antara Shafa dan Marwa kira-kira 405 meter. Oranag yang melakukan Sa’I berjalan antara Shafa dan Marw sebanyak tujuh kali pulang balik. Jadi orang mengerjakan Sa’I berjalan kurang lebih 7 x 405 = 2835 meter (kurang lebih)[1]

 

 

 


[1] Sudarsono. Susmayati.1992, Mengenal Keesaan Tuhan Ka’bah Pemersatu Umat Islam, Adi Madasatya, halaman 225.


[1] Christian S. Hurgronje, 1989, Perayaan Makkah,, Jakarta: INIS, halaman 11.

[2] Mahmoud M. Ayoub, 2004, Islam Antara Keyakinan dan Praktek Ritual, Yogyakarta: AK GROUP, halaman 159.

[3] Christian S. Hurgronje, 1989, Perayaan Makkah,, Jakarta: INIS, halaman 65

[4] Nabilah Lubis, 201,Meyikap Rahasia Ibadah Haji, Jakarta: PT RajaGrafindo, halaman 132

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s