TEORI BEHAVIORISME

Posted: Juni 7, 2011 in Uncategorized

TEORI BEHAVIORISME

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar secara efektif dan efisien dengan proses interaksi dalam proses belajar mengajar antara guru dan sisiwa yang lebih ditekankan pada siswa sebagai subyek student control dengan pola kontektual teaching dan learning (CTL)

Dalam proses pembelajaran, diperlukan pengetahuan tentang aspek kejiwaan siswa dimana guru selaku fasilitator seyogyanya mengerti dan lebih lebih memahami kakteristik masing masing siswa

Berangkat dari fenomena diatas lahirlah beberapa teori belajar berdasarkan analisis antara fakta yang satu dengan fakta yang lain yang mana dengan teori tersebut dimaksudkan dapat mewujudkan tujuan suatu pembelajaran yaitu perubahan perilaku

Teori behavioristik merupakan salah satu dari beberapa teori yang menitik beratkan pada perubahan perilaku siswa. Selanjutnya bagaimana aplikasi dan penerapan teori ini akan dipaparkan didalam makalah ini

 

  1. B.     Tujuan
  • §         Mengetahui definisi teori behavioristik, prinsip prinsip, dan kerangka berfikirnya
  • §         Mengetahui tokoh tokoh serta pemikiranya didalam mengembangkan teori behavioristik
  • §         Dapat menjelaskan perbedaan classical conditioning dan operant conditioning
  • §         Dapat menerapkan teori ini didalam proses pembelajaran

 

  1. C.     Rumusan Masalah
  • §         Bagaimanakah gambaran teori behavoristik?
  • §         Bagaimanakah pola penerapan teori ini didalam proses pembelajaran?
  • §         Hokum – hokum yang berkenaan dengan teori behavioristik
  • §         Pencetus teori behavioristik dan tokoh tokohnya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

TEORI BEHAVIORISTIK

  1. A.     Definisi

Terdapat beberapa teori didalam suatu proses pembelajaran dan setriap teori mempunyai konsep atau prinsip tersendiri .  Berdasarkan perbedaan sudut pandang in maka teori pembelajaran dapat dikatagorikan kepada beberapa bagian, dan salah satunya adalah teori behavioristik atau yang disebut dengan tingkah laku

Teori behavioristik pertama kali dipelopori oleh B.F. skinner yaitu sebuah teori belajar yang menekankan pada tingkah laku manusia, serta memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungan . maka belajarpun dilihat dari adanya prilaku yang terukur, terlihat serta teramati dan teori ini sedikit sekali menyinggung tentang proses mental atau internal berfikir. Singkatnya menurut perspektif ini belajar adalah perubahan perilaku atau apa yang dilakukan seseorang dalam keadaan tertentu

 

  1. B.     Implikasi Teori Belajar Behavioristik

Belajar menurut pandangan behavioris adalah konskwensi dari satu perilaku yang akan menentukan apakah perilaku tersebut akan terjadi pengulangan atau tidak. Jenis konskwensi yang diteima bisa berdampak meneguhkan (rainforce) atau memperlemah (Punish) terhadap suatu perilaku. Hal yang dapat meneguhkan adalah adanya penghargaan sehingga dapat meningkatkan frekuensi atau durasi perilaku tertentu, sedangkan untuk hukuman (Punishment) dimaksudkan untuk memperlemah atau menekan suatu perilaku, sehingga perilaku yang menimbulkan hukuman itu diharapka tidak akan terulang lagi dimasa berikutnya

Dampak berkurangnya perilaku yang tidak diinginkan itulah sebagai penanda konskwensi terhadap hukuman yang telah terjadi, adapun macamnya ada dua yaitu hukuman langsung yang bertujuan menghilangkan atau memberhentikan suatuperilaku dan hukuman yang yang bermaksud untuk memperlemah atau mengurangi perilaku

Bila peneguhan adalah konskwensi dari perilaku, maka keadaan awal (Antecedent) adalah kejadian sebelum perilaku terjadi. Keadaan awal ini memberikan informasi tentang perilaku, mana yang akan mengarah pada konskwensi negative? Dan mana yang akan mengarah pada konskwensi yang positif. Orang yang tanggap akan memahami sesuatu dimana dia akan membaca dengan baik tanda tanda keadaan sebelum bertindak

Secara sederhana teori ini mengajukan hubungan yang se3derhana A-B-C yaitu antecedent – behaviout – consequence atau keadaan awal-prilaku-konskwensi. Pada saat perilaku dilakukan maka konskwensi bertransformasi menjadi keadaan awal untuk tahapan ABC selanjutnya sehingga perilaku dipengaruhi oleh perubahan yang dilakukan dalam latar belakang konskwensi atau keduanya[1]

 

  1. C.     Prinsip Prinsip

1)Obyek psikologi adalah tingkah laku

2)Semua bentuk tingkah laku dikembalikan pada reflek

3)Mementingkan pembentukan kebiasaan

 

  1. D.    Kerangka Berbikir Teori Behavioristik
  • ·    Menekankan peranan lingkungan
  • ·    Mementingkan pembentukan reaksi atau respon
  • ·    Menekankan pentingnya latihan
  • ·    Mementingkan mekanisme hasil belajar
  • ·    Mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan (S – R)[2]

 

  1. E.     Tokoh – Tokoh Behavioristik
    1. 1.  Edward Lee Thondike (1874 – 1949)

Menurut Thondike belajar merupakanj peristiwa terbentunya asosiasi asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon (S – R), teori ini disebut “ Connectionism”. Eksperimenyang  dilakukan adalah seekor kucing yang lapar dan ditempatkan dikotak yang ditutup dan hanya ada sebuah pintu yang bisa dibuka dengan pengungkit untuk bisa melepaskan palang pintunya. Setelah melakukan berbagai respon, akhirnya ia bisa menemukan koneksi yang tepat antara respond dan stimulusnya

Jadi belajar dengan cara ini mengandung beberapa ciri

      Ada motif atau pendorong aktivitas

      Ada berbagai respon terhadap situasi

      Ada eliminasi respon yang salah

      Kemajuan reaksi reaksi mencaoai tujuan[3]

Dari hasil percobaan itu Thursttone mengemukakan tiga hokum primer yaitu

  1. 1.      Hukum Kesiapan (law of readiness). Hokum ini mengatakan
  2. a.       Kalau suatu unit tindakan sudah siap dilakukan, maka akan menimbulkan kepuasan
  3. b.      Kalau suatu unit tindakan sudah siap tetapi tidak dilakukan, maka akan menimbulkan ketidak puasan
  4. c.       Kalau suatu unit tindakan tidak dilakukan lalu dipaksa untuk melakukan, maka akan menimbulkan ketidak puasan dan berakibat dilakukanya tindakan tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidak puasan yang bersifat mengganggu
    1. 2.      Hukum Latihan (law exercise) Hukum ini mengandung dua hal, yaitu:
      1. a.       Hukum menggunakan (law of use) : hubungan baru akan tambah kuat jika ada latihan latihan lain yang sama dengan yang pernah dihadapi atau yang dilakukan sebelumnya
      2. b.      Hukum tidak menggunakan (law of effect) : hubungan akan menjadi lemah atau terlupakan jika latihan latihan atau penggunanya dihentikan
      3. 3.      Hukum Efek (law of effect). Hukum in menyatakan bahwa hubungan S – R itu akan menjadi semakin kuat bila disertai dengan rasa senang atau puas, demikian pula sebaliknya

Disamping tiga hokum belajar primer seperti yang telah disebutkan diatas Thorndike mengajukan lagi lima hokum belajar sekunder, yaitu:

  1. a.   Hukum respon berganda. Hokum ini menyatakan bahwa individu dihadapakan kepada sesuatu yuang bersifat problematis, maka ia mencoba coba untuk mereaksinya dengan berbagai cara. Akibatnya, ditemukanlah respon yang tepat (berhasil)
  2. b.  Hukum Sikap. hukum ini menyatakan bahwa berhasilnya individu yang khusus dalam menghadapi lingkungan kebudayaan tertentu akan menentukan respon apa yang dilakukan. Penentuan tentang apa yang perlu dilakukan dan apa yang menguntungkan dalam belajar banyak ditentukan oleh sikap individu. Oleh karena itu dapatlah dimaklumii bahwa stimulus yang sama boleh jadi akan memperoleh respon atau reaksi yang berlainan
  3. c.   Hukum sebagian kegiatan atau hukum unsure yang prapotensi. Hukum ini menyatakan bahwa indivi cendurung bersifat selektif dalam menentukan kemungkinan kemungkinan yang ada dalam situasi tertentu. Kemampuan memilih hal-hal yang pokok dan hal hal yang kurang penting atau tidak pokok ini memungkinkan subyek untuk belajar secara analitis dan berdasarkan atas penngertian
  4. d.  Hokum asimilasi atau analogi. Hukum ini menyatakan bahwa individu dapat menyesuaikan diri atau memberikan respon yang sesuai dengan situasi baru yang agak berbeda dari yang sebelumnya namun mengandung unsure yang mirip atau sama. Dengan kata lain, respon yang dilakukan banyak dipengaruhi oleh respon sebelumnya sejauh kedua situasi tersebut memiliki kesamaan atau kemiripan unsur unsurnya
  5. e.   Hukum perubahan atau pertukara asosiatif. Hokum ini menjelaskan bahwa jika individu mereaksi sesuatu dan berhasil, maka respon ini dapat digunakan untuk mereaksi atau merespon dalam situasi lainya sampai respon ini tetap dipertahankan. Jadi, tiap-tiap respon dapat dijadikan sebagai perangsang yang sensitive bagi individu

2.B.F. Skinner ( Operant Conditioning)

Sebagaimana Pavlov dan Watson, Skinner juga memikirkan perilaku sebagai hubungan antara perangsang dan respon, tetapi berbeda dengan ke dua ahli yang terdahulu. Watson memberikan perumusannya mengenai psikologi sebagai suatu cabang ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif. Tujuannya adalah untuk meramalkan dan mengontrol tingkah laku Skinner membuat rincian lebih jauh.

Skinner membedakan adanya dua respon yaitu :

  •          Respondent respont (reflexive respone), yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang-perangsang yang demikian itu di sebut elicting stimuli , menimbulkan respon-respon yang secara relatif menetap, misalnya makanan yang menimbulkan air liur. Pada umumnya perangsang-perangsang yang demikian itu mendahului respon yang ditimbulkan.
  •          Operant Respont (Instrumental Response), yaitu respon yang ditimbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Perangsang yang demikian itu di sebut reinforcing stimuli atau reinforcer, karena perangsang-perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme. Dengan kata lain perangsang yang dmikian itu mengikuti sesuatu perilaku yang telah dilakukan. Apabila seorang anak belajar (telah melakukan tindakan), kemudian ia dapat mendapat hadiah, maka ia akan belajar menjadi lebih giat (responnya menjadi lebih insentif/ kuat).

Dalam realitanya, respon jenis pertama itu (respondent-response atau respondent behavior) sangat terbatas adanya bagi manusia, karena adanya hubungan yang pasti anatara stimulus dan respon kemungkinan untuk memodifikasinya adalah kecil. Sebaliknya, operant response atau instrumental behavior merupakan bagian terbesar dari perilaku manusia, dan kemungkinannya untuk memodifikasinya dapat dikata tidak terbatas. Inti dari teori Skinner adalah pada respon atau perilkau jenis ada jenis yang kedua iai. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana menimbulkan, mengembangkan, dan memodifikasikan perilaku tersebut.

Prosedur Pembentukan Perilaku

  1. 1.         Dilakukan identifikasi tentang hal-hal apa yang merupakan reinforce (hadiah) bagi perilaku yang akan dibentuk itu.
  2. 2.         Dilakukan analisis untuk mengidentifikasi kompenen-komponen kecil yang membentuk perilaku yang dimaksud. Komponen-komponen itu kemudian disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju ke terbentuknya perilaku yang dimaksud.
  3. 3.         Dengan mempergunakan secara urut komponen-komponen itu sebagi tujuan sementara, mengidentifikasi reinforce (hadiah) untuk setiap komponen itu.
  4. 4.         Melakukan pembentukan perilaku, dengan menggunakan urutan komponen yang telah disusun itu.

Bila komponen pertama telah dilakukan, maka hadiahnya diberikan; hal ini akan mengakibatkan komponen ini semakin cenderung untuk sering dilakukan. Bila hal ini sudah terbentuk, dilakukannya komponen kedua yang diberi hadiah; demikian berulang-ulang, sampai komponen kedua terbentuk. Setelah itu dilanjutkan komponen ketiga, keempat, dan selanjutnya, sampai seluruh perilaku yang diharapkan terbentuk

Teori Skinner tersebut akhir-akhir ini besar pengaruhnya, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya. Konsep behavior control dan behavior modification bersumber dari teori Skinner. Bahkan di Indonesia banyak juga digunakan teori ini dalam sistim pembelajaran meskipun tidak murni behavioris[4].

3.Ivan Pavlov (Classical Conditioning)

Percobaan Pavlov mengenai fungsinya kelenjar ludah pada anjing merupakan contoh klasik bagaimana perilaku tertentu dapat dibentuk melalui pengaturan dan manipulasi lingkungan. Proses pembentukan perilaku semacam itu di sebut proses pensyaratan ( Conditioning prosess). Air liur anjing yang secara alami banyak hanya keluar apabila ada makanan, pada akhirnya dengan proses pensyaratan air liur dapat keluar sekalipun tidak ada makanan.

Berikut ini adalah percobaan Pavlov beserta dengan langkah-langkahnya :

Pertama anjing disajikan tepung daging (US), menimbulkan respon anjing berupa air liur (UR). Pada situasi lain disajikan cahaya lampu (CS), ternyata tidak menghasilkan respon keluarnya air liur, alih-alih anjing hanya memperhatikan lampu. Hal ini merupakan keadaan prabelajar. Selanjutnya tepung daging disajikan hampir bersamaan dengan cahaya lampu secara berulangan-ulang (US + CS yang menghasilkan UR + CR). Inipun merupakan proses pembelajarannya.

Pada akhirnya anjing mengeluarkan air liur (UR) ketika disajikan cahaya (CS) sekalipun tidak diikuti penyajian tepung daging. Keluarnya air liur sebagai respon terhadap stimulus cahaya ini di sebut perilaku hasil belajar atau hasil pengkondisian. Apabila ada dua hal yang prosedural yang harus dipenuhi dalam percobaan ini yaitu : (1) penyajian CS itu segera diikuti oleh US dan (2) hal yang demikian itu dilakukan berulang-ulang sampai CR terbentuk.

Dalam percobaan yang lain cahaya itu diganti dengan bunyi bel sebelum diberikan makanan kepada anjing dibunyikan bel, setelah hal yang demikian itu diulang ulang secukupnya, maka dengan mendengar bunyi bel saja anjing telah mengeluarkan air liur.

Percobaan selanjutnya dilakukan untuk mengetahui apakah respon bersyarat yang telah terbentuk itu dapat dihilangkan. Prosedurnya, perangsang bersyarat yang telah menimbulkan respon bersyarat disajikan berulang-ulang tanpa diikuti perangsang tak bersyarat. Mula-mula anjing mengeluarkan air liur, lama kelamaan dia tidak lagi mengeluarkan air liur, sekalipun menyaksikan perangsang bersyarat. Proses hilangnya respon yang terbentuk ini di sebut extinction.

Kesimpulannya, dalam percobaan-percobaan ini anjing belajar bahwa cahaya lampu ataupun bunyi bel itu mula-mula sebagai datangnya makanan (pembentukan CR), kemudian ia belajar bahwa cahaya lampu atau bunyi bel sebagai pertanda tidak ada makanan (penghilang CR). Watson (1970 dalam Willis, 1989) mempergunakan prinsip yang sama itu untuk menjelasakan perilaku manusia. Anak yang semula tidak takut pada tikus putih dapat dibuat takut pada tikus putih tersebut, kemudian ketakutan itu dapat dihilangkan. Di dalam kehidupan sehari-hari hal yang serupa terjadi. Orang yang semula tidak takut ular pada akhirnya takut ular, kalau dia sering diganggu atau digigit ular.

Pada dasarnya menurut teori ini adalah perilaku dapat dibentuk dengan cara berulang-ulang, perilaku itu dipancing dengan sesuatu yang memang menimbulkan perilaku itu[5]

                                           KESIMPULAN

Teori belajar behaviorisme adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.

Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behaviorisme. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.

Teori behaviorisme dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behaviorisme adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat.

Beberapa prinsip dalam teori belajar behaviorisme, meliputi: (1) Reinforcement and Punishment; (2) Primary and Secondary Reinforcement; (3) Schedules of Reinforcement; (4) Contingency Management; (5) Stimulus Control in Operant Learning; (6) The Elimination of Responses

Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya adalah Thorndike, Watson, Clark Hull, Edwin Guthrie, dan Skinner. Berikut akan dibahas karya-karya para tokoh aliran behavioristik dan analisis serta peranannya dalam pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • ·        Penanya
  1. 1.      Hadi Bustomi,

Pertanyaan: contoh stumulus dan respon

  1. 2.      Umirul Lisa’yaro

Pertanyaan: penyebab timbulnya teori behaviorisme

  1. 3.      M. Nashruddin

Pertanyaan:

  1. 4.      Firdaus

Pertanyaan: Apakah teori ini konsekuensinya dapat member dampak negative.

  • ·        Tambahan

1. Yunita

2. Hadi Bustomi


[1] Hoy, w.k. dan Miskel, C.G, 2005, Education administration (seventh ed.),New York: McGraf Hill

[2] www. Freewebs. com

[3] Wasty Soemanto, 1998, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta), hal. 124

[4] www. Mthohir. co. cc

[5] Ibid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s