Bahasa Ibu dan Bahasa Sang Ibu

Posted: Juni 17, 2011 in Uncategorized

Bahasa Ibu dan Bahasa Sang Ibu

Bahasa ibu adalah bahasa petama yang dikuasai atau diperoleh anak. Sedangkan bahasa sang ibu adalah bahasa yang dipakai oleh orang dewasa pada waktu berbicara dengan anak yang sedang dalam proses memperoleh bahasa ibunmya.

Bahasa sang ibu mempunyai ciri-ciri khusus : (a) kalimatnya umumnya pendek-pendek, (b) nada suaranya biasanya tinggi, (c) intonasinya agak berlebihan, (d) laju ujaran agak lambat, (e) banyak redunsi (pengulangan), dan (f) banyak memakai kata sapaan. Namun ciri-ciri tersebut semakin berkurang sesuai dengan perkembangan anak.

Semua orang tidak mengira bahwa bahasa yang dipakai oleh ayah dan bahasa yang dipakai oleh ibu waktu berbicara dengan anak berbeda. Ayah umumnya berbicara lebih pendek, lebih banyak memakai kaimat imperative dan direktif, dan banyak meminta penjelasan dari anak.

Menurut Chomsky bahasa sang ibu “amburadul”. Artinya, bahasa yang kita pakai tidak selamanya apik. Akan tetapi, dari input yang tidak apik ini anak dapat menyaring sistem yang apik, tetapi menurut Gleitman dan Snow bahwa bahasa sang ibu ternyata tidak sejelek seperti yang dinyatakan Chomsky, bahkan banyak baiknya daripada amburadulnya.

  • Peran Hemisfir Kiri dan Hemisfir Kanan

Pandangan lama mengatakan bahwa ihwal kebahasaan itu ditangani oleh hemisfir kiri, dan sampai sekarang pandangan itu masih dianut orang dan banyak pula benarnya. Penelitian Wada (1949) yang memasukkan cairan ke kedua hemisfir menunjukkan bahwa bila hemisfir kiri yang ditidurkan maka terjadilah gangguan wicara.

Dari hasil operasi yang dinamakan hemispherectomy operasi di mana satu hemisfir diambil dalam rangka mencegah epilepsi, terbukti juga bahwa bila hemsfir kiri yang diambil maka kemampuan berbahasa orang itu menurun drastis. Sebaliknya, bila yang diambil hemisfir kanan, orang tersebut masih bisa berbahasa meskipun tidak sempurna.

Meskipun kasus-kasus dia atas mendukung peran hemisfir kiri sebagai hemisfir bahasa, dari penelitian-penelitian mutakhir didapati bahwa pandangan ini tidak seluruhnya benar. Hemisfir kanan pun ikut berperan. Seorang anak yang cedera hemisfir kirinya dapat memperoleh bahasa seperti anak normal. Hal ini menunjukkan bahwa hemisfir kanan pun mampu untuk melakukan fungsi kebahasaan.

Dari orang-orang yang hemisfir kanannya terganggu didapati bahwa kemampuan mereka dalam mengurutkan peristiwa sebuah cerita atu narasi menjadi kacau. Mereka tidak mampu lagi untuk menyatakan apa yang terjadi pertama, kedua, ketiga, dst. Selain itu dia juga tidak dapat mendeteksi kalimat ambigu, dan sukar pula memahami metafora maupun sar kasme, intonasi kalimat introgatif juga tidak dapat dibedakan dengan intonasi kalimat deklaratif.

Dari gambaran ini tampak bahwa hemisfir kanan juga mempunyai peran bahasa, tetapi memang tidak seintensif seperti hemisfir kiri. Namun demikian, tetap saja hemisfir kanan memegang peran cukup penting.

  • Perkembangan Bahasa Pada Anak dan Bahasa Binatang
    • Perkembangan bahasa pada anak

Dalam perkembangan bahasa anak, terdapat tiga komponen yang berpengaruh    dalam perkembangan serta perolehan bahasa pada anak, yakni : fonologi, sintaksis, dan semantik.

  1. Pemerolehan dalam bidang fonologi

Pada waktu dilahirkan, anak hanya memiliki sekitar 20% dari otak dewasanya, karena itulah pada waktu dilahirkan, anak hanya bisa menangis dan menggerak-gerakkan badanya.

Pada umur sekitar 6 minggu, anak mulai mengeluarkan bunyi-bunyi yang mirip bunyi konsonan atau vokal. Proses ini dinamakan cooing/dekutan. Kemudian pada sekitar umur 6 bulan, anak mulai mencampur konsonan dengan vokal sehingga membentuk apa yang dalam bahasa Inggris dinamakan babbling/celotehan.

  1. Pemerolehan dalam bidang sintaksis

Dalam bidang sintaksis, anak memulai berbahasa dengan mengucapkan satu kata (atau bagian kata). Kata ini bagi anak sebenarnya adalah kalimat penuh, tetapi karena ia belum dapat mengatakan lebih dari satu kata, dia hanya mengambil satu kata Dari seluruh kalimat. Namun anak tidak sembarangan saja memilih kata itu, dia akan memilih kata yang memberikan informasi baru. Dengan singkat dapat dikatakan tahap ini adalah tahap Ujaran Satu Kata (USK).

Sekitar umur 2;0 anak mulai mengeluarkan Ujaran Dua Kata (UDK). Anak mulai dengan dua kata yang diselingi jeda sehingga seolah-olah dua kata itu kata terpisah. Pada UDK belum  ditemukan afiks macam apapun. Pada tahap ini anak juga sudah dapat menyatakan bentuk negatif.

Setelah UDK tidak ada ujaran tiga kata yang merupakan tahap khusus. Pada umumnya, pada saat anak mulai memakai UDK, dia juga masih memakai USK. Setelah beberapa lama memakai UDK dia juga mulai mengeluarkan ujaran yang tiga kata atau lebih. Jadi, antara satu jumlah kata dengan jumlah kata yang lain bukan merupakan tahap terputus.

  1. Pemerolehan pada bidang leksikon

Sebelum anak dapat mengucapakan kata, dia memakai cara lain untuk berkomunikasi, dia memakai tangis dan gesture (gerakan tangan, kaki, mata. Mulut, dsb). Pada mulanya kita kesukaran memberi makna untuk tangis yang kita dengar tetapi lama-kelamaan kita tahu pula akan adanya tangis-sakit, tangis-lapar, tangis-basah (pipis/buang air besar). Pada awal hidupnya anak memakai pula gesture seperti senyum dan juluran tangan untuk meminta sesuatu. Dengan cara ini anak sebenarnya memakai kalimat yang protodeklaratif dan protoimperatif.

 

  • Perkembangan bahasa pada binatang

Pada waktu dilahirkan, binatang yang sudah memiliki sekitar 70% dari otak kedewasaannya. Sehingga binatang sudah dapat melakukan banyak hal segera setelah lahir.

Dari sejarah pertumbuhan makhluq hidup, evolusi otak manusia dan binatang berbeda. Misalnya pada simpanse dan gorilla, pada kedua hewan tersebut dalam otaknya tidak terdapat daerah-daerah yang dipakai untuk memproses bahasa. Binatang seperti simpanse lebih banyak memakai otaknya untuk kebutuhan-kebutuhan fisik bukan untuk kebutuhan-kebutuhan yang bersifat kebahasaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s